• GD
  • FE
  • ACE
Home > Action > Wiro Sableng 212 (2018) WEBDL 480p & 720p

Wiro Sableng 212 (2018) WEBDL 480p & 720p

Free Download & streaming Wiro Sableng 212 Movies BluRay 480p 720p 1080p Subtitle Indonesia
Wiro Sableng 212 (2018)
123 min|Action, Adventure, Comedy, Fantasy|30 Aug 2018
7.2Rating: 7.2 / 10 from 1,331 usersMetascore: N/A
Indonesia, the 16th century, Wiro Sableng, a disciple from a mysterious Warrior named Sinto Gendeng, got a mission from his Master to take down Mahesa Birawa, her former disciple who betrayed her.

In 16th century Java, after his parents are killed by a rogue martial artist, Wiro Sableng is rigorously trained by a benevolent silat master. She sends him off to capture the culprit, who now aims to take over the throne from the king.

Review Wiro Sableng 212

Review Wiro Sableng 212

Disutradarai Angga Dwimas Sasongko (‘Filosofi Kopi’, ‘Bukaan 8’), diproduseri Sheila Timothy (‘Banda the Dark Forgotten Trail’, ‘Tabula Rasa’) dengan production house-nya LifeLike Pictures, dan juga ikut dicukongi Fox International Productions (anak perusahaan 20th Century Fox), membuat film yang diberi judul ‘Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212’ ini menjadi salah satu film yang paling dinantikan kemunculannya di tahun ini dengan segala ekspektasi yang demikian tinggi. Betapa tidak, dengan segala alasan di atas.

Syahdan pada abad ke-16, seorang pendekar golongan hitam bernama Suranyali (kita akan mengenalnya di kemudian hari sebagai Mahesa Birawa, diperankan Yayan Ruhian dari film ‘The Raid’) bersama Kalingundil (Dian Sidik, ‘Seteru’, ‘Tebus’) dan beberapa anak buahnya yang lain berkuda tengah malam menuju ke sebuah perkampungan untuk menjarah harta benda penduduk. Di kampung itu ia berhadapan dengan Ranaweleng (Marcell Siahaan, ‘Andai Ia Tahu’, ‘Madame X’) yang berani melawannya, hanya untuk dibunuhnya dengan seketika. Istrinya, Suci (Happy Salma, ‘Dilan 1990’, ‘Buffalo Boys’) juga ikut terbunuh.

Anak mereka yang masih kecil, Wira Saksana, menyaksikan peristiwa pembunuhan kedua orang tuanya tersebut. Suranyali menyeretnya dan kemudian melemparkannya ke rumahnya sendiri yang tengah terbakar.
Saat harapan hampir lenyap, muncullah pendekar perempuan bernama Sinto Gendeng (Ruth Marini, ‘Sebelum Iblis Menjemput’) yang datang menyelamatkannya. Ia lantas membawanya ke puncak Gunung Gede dan menjadikannya murid. Selama 17 tahun ia digembleng, diberi ilmu-ilmu sakti, dan petuah-petuah hidup dari sang guru. Namanya lalu diganti menjadi Wiro Sableng.

Dari sini, tanpa perlu membaca novelnya, tentu kita sudah dapat menduga ke mana arah film akan bertolak bukan? Sinto Gendeng pada akhirnya menyuruh Wiro untuk turun gunung dan membalaskan dendamnya terhadap Suranyali.
Sebuah perjalanan yang akan mempertemukannya dengan begitu banyak orang sebelum pada akhirnya ia berduel maut melawan Mahesa Birawa alias Suranyali yang ternyata juga merupakan bekas murid Sinto Gendeng.

Ditulis oleh Tumpal Tampubolon (‘Tabula Rasa’, ‘Rocket Rain’) bersama Sheila Timothy dan Seno Gumira Ajidarma (‘Pendekar Tongkat Emas’) dengan mengadaptasi beberapa judul novel seri Wiro Sableng, tetapi sepertinya seri ‘Empat Brewok dari Goa Sanggreng’ dan ‘Maut Bernyanyi di Pajajaran’ menjadi landasan utama yang dijadikan inti cerita dalam film ini.

‘Empat Brewok dari Goa Sanggreng’ mengisahkan babak kematian orang tua Wiro dan perjalanan awal dirinya menjadi seorang pendekar, sedangkan ‘Maut Bernyanyi di Pajajaran’ adalah kisah di mana pada akhirnya Wiro berhadapan dengan Suranyali/Mahesa Birawa. Dua judul seri novel tersebut adalah kunci, tetapi karakter-karakter yang hadir di film ini tak hanya karakter-karakter yang mula-mula hanya ada dalam dua judul novel tadi.

Misalnya Bujang Gila Tapak Sakti (diperankan Fariz Alfarazi) yang pertama kali muncul lewat seri berjudul ‘Hari Hari Terkutuk’, Bidadari Angin Timur (Marsha Timothy, ‘Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak’) yang pertama kali muncul lewat seri berjudul ‘Guci Setan’, dan masih banyak karakter lainnya yang dimunculkan di film ini, sayangnya tanpa diberi latar belakang berarti.

Ketika Wiro turun gunung dan kembali ke kampungnya, ia singgah di sebuah warung kopi di mana ia bertemu dengan Kalingundil si anak buah Mahesa Birawa. Di warung itu juga ada pelarian seorang puteri (diperankan oleh Aghniny Haque) dan putera mahkota kerajaan (diperankan oleh Yusuf Mahardika) yang diburu oleh para pendekar golongan hitam di bawah pimpinan Mahesa Birawa.

Lalu muncul juga Empat Brewok yang memiliki permasalahan dengan Kalingundil. Maka kericuhan pun terjadi. Wiro ikut bertarung melawan Kalingundil, dan di sini pula kita melihat kesaktian Wiro manakala ia memukul lawan dengan telapak tangannya, maka bagian tubuh lawan yang dipukulnya tersebut mendapatkan cap seperti terbakar dengan logo 212 darinya.

Logo 212 di film ini bukanlah logo dengan tulisan angka “212”, tetapi sebuah logo atau simbol yang jika dilihat secara terbalik akan terlihat sama. Jadi, dalam novel, diceritakan bahwa Wiro ketika memukul lawannya dengan telapak tangannya, maka akan ada cap angka 212 yang menempel di badan lawan yang ia pukul.
Menjadi tidak masuk akal ketika angka “212” yang “tertulis” dalam telapak tangan Wiro itu ditimpakan kepada lawan dan meninggalkan bekas berupa angka “212” juga, padahal secara logika, angka itu semestinya menjadi terbalik dan akan terbaca menjadi “515”. Maka, sebuah keputusan yang brilian dan penuh perhitungan ketika pembuat film memutuskan untuk tak memakai angka “212” tetapi membuat logo tersendiri yang demikian adanya tampil di film ini.

Subscene Link ..: Indonesian, English
Trailer ........: Watch
MKV 480p x264 BRRip | MB
MEGA GD FE MORE

MKV 720p x264 BRRip | MB
MEGA GD FE MA MORE


Watch Wiro Sableng 212 (2018) Online

Watch Wiro Sableng 212 (2018) Online

Spesial Thanks to Google.Com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *